Wayang untuk Dalang Multi Level Usia Sebagai Wahana Pelestarian Seni Tradisional

Authors

  • Junaidi Junaidi Institut Seni Indonesia Yogyakarta
  • Bayu Aji Suseno Institut Seni Indonesia Yogyakarta
  • Abdul Aziz Institut Seni Indonesia Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.22219/satwika.v2i1.7019

Keywords:

wayang, dalang multi usia, wahana, pelestarian, seni tradisional

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melestarikan wayang tradisi melalui dalang berbagai usia. Wayang tradisi bersifat mono level dan diformat untuk dalang laki-laki dewasa, sehingga kurang sesuai dengan dalang multi level usia. Mengapa model wayang format multi usia dapat dijadikan sebagai wahana pelestarian wayang tradisional? Jawaban pertanyaan ini dapat diperoleh melalui perancangan model wayang berukuran fisik dan jiwa dalang berbagai level usia. Metode eksperimen digunakan untuk menciptakan wayang multi format, sedangkan pembahasannya berdasarkan teori struktur. Lima macam format boneka wayang kulit purwa dapat dihasilkan untuk diterapkan kepada dalang anak-anak, anak, remaja awal, remaja akhir, dan dewasa, yaitu: (1) Wayang kaper, untuk dalang tingat anak-anak; (2) Wayang kidangkencanan untuk dalang tingkat anak; (3) Wayang jaranan, untuk dalang tingkat remaja awal; (4) Wayang banthèngan, untuk dalang tingkat remaja akhir; dan (5) Wayang gajahan, untuk dalang tingkat dewasa. Kelima jenis wayang ini dapat dipakai sebagai wahana untuk pelestarian seni tradisional, karena memiliki kesesuaian format fisik dan jiwanya.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Darsomartono, S. 1978 Tuntunan Padhalangan. Surakarta: Yayasan Pasinaon Dhalang ing Mangkunagran.

Haryanto, S. 1991 Seni Rupa Wayang Kulit. Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti.

Junaidi. 2010. “Pakeliran Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta oleh Dalang Anak. Yogyakarta: Disertasi untuk Memeperoleh Derajat

Sarjana S-3, Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada

Juanidi. 2016. Pengetahuan Dasar Seni Pedalangan. Yogyakarta: CV. Arindo Nusa Media.

Nawawi, H. Hardani dan Martini, Mimi. 2005. Penelitian Terapan. Yogyakarta: Gadjah Mada Press.

Piaget, Jean. 1995 Strukturalisme. Trans. Hermoyo. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Sajid, RM. 1958 Bauwarna Wayang. Yogyakarta: P.T. Percetakan Republik Indonesia.

Sastroamidjojo, Seno.1964 Renungan Tentang Pertunjukan Wayang Kulit. Jakarta: Kinta Jakarta.

Soekatno. 1992. Mengenal Wayang Kulit Purwa. Semarang: C.V. Aneka Ilmu.

Soetarno, Sunardi, dan Sudarsono. 2007. Estetika Pedalangan. Surakarta: Institut Seni Indonesia Surakarta bekerjasama dengan CV. Adji Surakarta.

Soetrisno, R. 1974. Kawruh Wayang. Surakarta: Akademi Seni Karawitan Indonesia.

Sudjawo, Heru S, Sumari, Undung Wiyono. 2013 Rupa & Karakter Wayang Purwa. Jakarta: Kakilangit Kencana Perdana Media Group,

Cetakan ke-2.

Suroso. 2009 Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Pararaton.

Suryabrata, Sumadi. 1987. Psikologi Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali.

Downloads

Published

2018-11-12

How to Cite

Junaidi, J., Suseno, B. A., & Aziz, A. (2018). Wayang untuk Dalang Multi Level Usia Sebagai Wahana Pelestarian Seni Tradisional. Satwika : Kajian Ilmu Budaya Dan Perubahan Sosial, 2(1), 20–35. https://doi.org/10.22219/satwika.v2i1.7019

Issue

Section

Original Research