PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MENULIS KEMBALI DONGENG UNTUK SISWA SMP KELAS VII

Encil Puspitoningrum


Abstract


Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model bahan pembelajaran menulis kembali dongeng yang dibaca menggunakan pendekatan kontekstual untuk siswa SMP kelas VII. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan deskriptif kuantitatif. Rancangan penelitian ini diadaptasi dari model desain sistem pembelajaran Pannen dan Purwanto 2001. Hasil uji bahan ajar dengan ahli sastra menghasilkan rata-rata kelayakan sebesar 68,18%, ahli pembelajaran 82,35%, guru Bahasa Indonesia 91,17%, dan siswa 88,12%. Kesimpulan utama penelitian pengembangan yaitu pengembangan bahan ajar ini dapat digunakan sebagai alternatif bahan pembelajaran menulis dongeng, pembelajaran menulis dongeng menjadi lebih bermakna dan menarik bagi siswa.

Kata Kunci: bahan ajar, menulis dongeng, pendekatan kontekstual

Abstract: This study aimed to develop a model of learning materials on rewriting fairy tales read by using a contextual approach for the seventh graders of junior high school. This is a development research using descriptive quantitative method. The design of this study was adapted from Pannen and Purwanto’s instructional model 2001. The results of the tryout test conducted by an expert in literature, an expert in language teaching, an Indonesian language teacher, and students showed that the learning materials were feasible with the percentage of 68.18 %, 82.35 %, 91.17 %, and 88.12 % respectively. The conclusion revealed that the teaching materials can be used as an alternative material to write fairy tales so that learning to write fairy tales become more meaningful and interesting for the students.

Keywords: teaching materials, write fairy tales, contextual approach


Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.22219/kembara.v1i2.2612 | Abstract views : 363 | PDF views : 363 |

Copyright (c) 2015 Encil Puspitoningrum

View My Stats

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.